Live Learn and Write

a piece of short stories everyday

Wednesday, May 27, 2020

SELAMAT


SELAMAT

(Oleh: Andini Naulina)

Pagi ini aku bergidik mengingat mimpi yang sama yang selalu bertamu sejak malam pengantin. Ini sudah masuk minggu kedua sejak aku menikah,aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku sehingga aku menjadi begitu ketakutan. Aku memang tak mau bercerita pada siapapun terutama pada orangtuaku tapi sepertinya harus diungkapkan jika aku tak ingin dikejar oleh mimpi itu lagi.
***
Siang itu, aku berjalan keluar pintu kelas setelah dua jam mengikuti mata kuliah Consumer Behavior. Aku mengenakan celana katun longgar, kemeja panjang dan sepatu keds. Rambutku yang panjang aku cepol ke atas dan bibirku tak kupulas dengan apapun. Kakiku melangkah ke dalam kantin kampus dimana Teddy dan Angga sedang asyik menikmati es teh manis di siang yang terik ini.
“Ga, Ted… gue mau putus dari Tio.” Ujarku dengan tampang kosong dan tak sedikitpun menoleh ke arah mereka berdua. Angga dan Teddy berhenti menyesap es teh manis bersamaan kemudian menoleh padaku yang masi mematung dengan tatapan lurus ke arah mbok kantin.
“ Lo lagi sakit vi?.” Teddy menaikturunkan telapak tangannya di depan wajahku. Mataku sama sekali tak berkedip tak juga tergoda dengan lesung pipinya yang muncul karena mencoba tersenyum menghiburku.
“Lo ada apalagi sama Tio?.” Angga bergerak mendekat dan tangan kanannya merangkul bahu kananku. Tak berapa lama aku menangis. Teddy berusaha duduk tepat di depanku agar tak ada orang lain di kantin yang melihat kejadian ini.
“Gue udah gak kuat, Tio kasar!.” Angga hanya mengangguk seolah dia tahu betul perasaanku lalu terdiam.
Teddy mematung , matanya menatap Angga mengisyaratkan kebingungan. Angga hanya menarik nafas panjang.
“Tadi malem tuh gue sebel banget sama dia karena satu hal terus gue mau pulang sendiri tapi dia larang alasannya sudah malam. Padahal tuh masih jam 7 malam, gue juga pernah diusir dia jam 9 malem pas lagi ribut terus gue naik taxi. Tapi gitu deh, dia kumat dan gue langsung ditarik ke mobilnya dia. Gue berontak karena gue gak mau deket sama dia, eh tiba tiba gue langsung ditinju dan dicaci maki.” Mukaku terasa panas mungkin memerah mengingat kejadian tadi malam yang membuatku marah dan sedih. Mengapa aku bisa diperlakukan seperti itu oleh kekasihku, calon suamiku. Apakah aku tak berharga di matanya? Apakah aku termasuk wanita bodoh yang diberitakan oleh koran pos kota atau berita sore di televisi? yang termasuk kategori berekonomi rendah dari keluarga tak terpandang yang disakiti oleh suaminya sndiri . Paling tidak, aku pernah menghina mereka karena pilihan pasangan mereka saat aku menonton atau membaca berita tentang wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga tersebut. Kini, tanpa kusadari ternyata aku mengalaminya sendiri dan bukan untuk yang pertamakali namun kesekian kali. Entah apa yang membuatku bertahan, aku hanya merasa takut jika aku harus berpisah dengannya.
“ Vi, lo udah sering mengalami ini?.” Teddy yang dari tadi kebingungan pelan pelan memberanikan diri bertanya padaku. Angga terlihat sedikit mengangguk. Aku memang sering bercerita pada Angga karena kebetulan dia salah satu mahasiswa Pascasarjana yang terpandai di angkatanku sehingga aku sering berkomunikasi padanya setiap selesai kuliah.
“Ngga nyangka ya Tio kayak bgitu, dia kelihatan nice, smart, gagah, sukses dan sempurna tapi….. lo yakin kan bukan lo yang cari gara-gara? Emang apa masalahnya?” Tanya Teddy lagi.
“ Ya lebih banyak ke cemburuan.. sama kalian juga dia cemburu. Apalagi Angga, kan gue soal kuliah dikit dikit tanya Angga. Tapi gue kan gak pernah jalan berduaan sama Angga satu mobil untuk nonton bareng atau makan bareng atau apalah. Nah tadi malem itu gue baca pesan singkatnya dia dengan salah satu teman kantornya. Cewek itu bilang: Makasih ya mas.. makan siang berdua yang sangat berkesan, udah diantar jemput ditraktir terus diajak nonton lagi..sering sering yaa” kataku mengingat jelas isi pesan cewek tersebut. “Terus.. Tio jawab, iya Lia.. biar kamu semangat kerjanya kapan kapan kita lunch berdua lagi ya.” Lanjutku dengan ingatan yang sangat jelas.
“Terus kalo Tio yang salah kenapa jadi lo yang kena sasaran?.” Tanya Angga.
“ Ya jadi kan gue ngambek dong, gue mau pergi dari rumahnya, gue mau pulang ke kost gue. Tapi dia ngejar gue, narik gue masuk ke dalam mobil. Di mobil gue berontak, gue mau turun dan gue gak mau ngomong sama dia. Ya akhirnya tinju mendarat di kaki dan tangan gue terus semua hewan kebun binatang keluar dari mulutnya. Nih!.” aku menggulung celanaku sampai ke lutut sehingga Angga dan Tio dapat melihat bulat bulat biru keunguan meyebar di bagian kaki dan betis. Mata teddy dan Angga terbelalak. “Nih lagi.” Aku menggulung lengan kemejaku hingga ke atas siku. Teddy dan Angga kembali melihat bulatan biru tersebut menyebar di bagian lenganku kemudian saling bertatapan.
“Ya sudah vi, kali ini keputusan lo sudah tepat yaitu mengakhiri hubungan lo dengan Tio. Gue dan Teddy support lo. Lo putusin lewat pesan singkat aja, gak usah ketemuan langsung. Gue khawatir nanti ada apa-apa mengingat sifatnya yang temperamen.” Pesan Angga terhadapku. Aku mengangguk dan meminta mereka mengantarku pulang ke kost.
***

Hari ini hari Sabtu, sudah seminggu aku jujur pada Teddy dan Angga terhadap kelakuan Tio dan ingin memutuskan Tio. Perasaanku saat ini sudah kembali normal. Aku tidak marah lagi. Rasanya aku akan memaafkan dan menerima kesalahan Tio. Tio paling bisa mengambil hatiku. Sejak kejadian itu, setiap hari dia mengirim pesan permintaan maaf dan menyesal bahkan mengirim video dirinya menangis dan merana karena kehilangan aku. Dia juga berusaha datang ke kost untuk menemuiku setelah pulang kantor untuk mengajak makan malam seperti biasa. Namun, aku selalu berpesan pada satpam kost agar selalu bilang pada Tio bahwa aku tidak mau bertemu dengannya. Tio terlihat sabar dan setiap kali datang ia selalu siap siap membawa makanan untukku jikalau aku masih tidak bersedia menemui dirinya.
Aku baru akan berdandan ketika telepon selulerku berbunyi dan layarnya tertera nama Angga.
“Vi lo dimana?.”
“di kost, kenapa Ga?.”
“Gw sama Teddy on the way kesana ya bawain makanan buat lo.”
“oh oke.”
Lima belas menit kemudian pintu gerbang kost terbuka, aku sudah menitip pesan pada satpam bahwa sebentar lagi temanku akan tiba. Angga memarkirkan mobilnya di halam an kost yang luas. Ia keluar mobil diikuti oleh teddy dan seorang pria yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Aku menggerai rambut hitam sebahuku ,mengenakan rok jeans selutut, T-shirt pendek warna putih, memoles bibirku dengan lisptik warna pink nude senada dengan blush on tak lupa sandal teplek berframe H di bagian atasnya. Teddy, Angga dan pria tak dikenal yang bertampang lebih senior berjalan menuju ruang tamu kost.
“Hai…duduk siniii ini siapa?.” Tanyaku kepada pria senior asing tersebut.
“Alim.” Jawab laki laki itu sambil menjabat erat tanganku dan matanya seolah memaku mataku. Aku berusaha melirik pada Angga dan Tio meminta penjelasan soal siapakah gerangan pria senior yang ada di hadapanku ini?
“Oh… Mas Alim… saya Vivi, temannya Angga dan Teddy.” Aku tersenyum sambil berusaha melepaskan jabatan tangan kuat itu dan menyilakan dia untuk duduk. Angga dan Teddy hanya tersenyum cengar cengir.
“Vi, kirain lagi mellow, kok lo hari ini keliatan berseri seri? Kita kesini mau memastikan keadaan lo nih kita bawain cakwe kesukaan lo.” Teddy menaruh cakwe di atas meja, membukanya lalu mencomot satu dan memasukkan ke dalam mulutnya.
“Ooh kesukaan gue apa kesukaan lo? Buat gue apa buat lo?.” Sindirku sambal tertawa garing.
“Gimana Vi, lo jadi kan mutusin Tio?.” Angga bertanya serius. Aku terdiam melihat ke arah cakwe. Kasihan Angga, dia pasti bosan mendengar hal ini. Tiap kali aku memutuskan untuk pisah dengan Tio selalu aku batalkan. Namun, baru minggu lalu aku menunjukkan bukti kekasaran Tio pada Angga dan Angga bersikeras bahwa aku kali ini harus benar benar pisah dengan Tio.
“Mm… gue sih sekarang udah gak sakit hati lagi Ga… ini udah hampir seminggu gue gak ketemu Tio tapi selama itu dia merengek maaf sama gue dan menyatakan menyesal tidak akan mengulangi.” Aku tak berani menatap mata Angga yang sepertinya sedang mengernyit tanda  tak mengerti.
“terus?.” tanya Angga seolah dia tak puas dengan jawabanku.
“Iya…trus gue fikir,mungkin gue akan memaafkan dia.” Teddy mendadak keselek cakwe, Angga menarik nafas panjang menahan dan melepaskannya perlahan, Mas Alim hanya mengangguk angguk.
“Eh Ted lo ga kenapa kenapa kan? Bentar ya gue ambilin air dulu.” Aku masuk ke kamar mengambil beberapa aqua gelas lalu menyodorkannya kepada Teddy. Teddy langsung menenggak habis air dalam kemasan tersebut.
“Lo tu sebenernya maunya apa sih vi? Lo mau babak belur lagi?.” Angga menatap tajam padaku.
“ Ya kan dia udah minta maaf Ga, dia janji gak melakukan itu lagi, dia kelihatan sangat menyesal.” Ujarku sambal mencomot cakwe.
“ Sekarang gue tanya, dulu dulu pas dia mukulin elo, dia pernah minta maaf dan berjanji untuk gak melakukan lagi ga?.” tanya Angga. Aku berhenti mengunyah, berfikir sebentar dan mengangguk pelan. Angga membalikkan kedua telapak tangannya ke atas seolah menyuruhku untuk berfikir kembali.
“ Lo sebenernya udah berapa kali sih vi mengalami ini?.” tanya Teddy heran.
“sering.” Jawabku sambil lanjut mengunyah cakwe.
“ Lo kenapa bertahan?.” tanya Teddy dengan mulut menganga dan alis mengangkat.
“Yah… kan lo berdua tau, target gue menikah maksimal 25 tahun. Nah gue kan sekarang udah 24 tahun. Gue udah dua tahun pacaran sama Tio. Dia udah janji untuk melamar gue setelah gue mendapatkan gelar Master gue.” Jelasku. Teddy dan Angga hanya saling bertatapan.
“Tenang…. Kamu ulang tahun akhir tahun ini kan? Berarti kira kira 5 bulan lagi ya?.” Tiba tiba Mas Alim membuka suara. Aku terkejut mendapati Mas Alim menebak ulang tahunku.
“Loh kok tau mas?.” Tanyaku sambil mencurigai Teddy dan Angga. Teddy dan Angga hanya mengangkat bahu bersamaan.
“ Gue emang sengaja ngajak Mas Alim kesini dan dari tadi gak jelasin siapa Mas Alim”. Ujar Angga. “Mas Alim itu temen kost gue, dia sering punya firasat mendekati benar terhadap lawan bicaranya. Dari tadi Mas Alim memperhatikan lo, gue tau lo akan labil seperti ini. Gue penasaran apa yang membuat lo labil sehingga lo susah banget memutuskan Tio padahal lo sering disakiti.” Lanjut Angga. Aku tak peduli. “ Apa jangan jangan lo tu udah dipelet sama dia?.” Kata Angga lagi.
“Huss sembarangan hari gini nuduh orang main pelet.” Jawabku sewot.
“ Ya lalu apa dong?.” Tanya Angga lagi.
“Ya kan gue udah bilang, target gue menikah itu umur 25 tahun, berarti kan tinggal 6 bulan lagi.”  Jelasku.
“Emang keluarga Tio sudah ada yang datang?.” Tanya Teddy.
“Ya belum sih… katanya ntar kalo udah lulus, Kira kira 3 bulan lagi kan kita wisuda.” Kataku. “Eh tunggu deh, tadi Mas Alim bilang aku bakal ketemu jodohku pas ulang tahun ini?.” Aku menoleh pada Mas Alim. Mas Alim mengangguk. “Jodohku itu pacar aku yang sekarang bukan?.” Tanyaku antusias.
“Bukan.” jawab Mas Alim singkat.
“Ah ga mungkin…” Kataku.
“Kenapa ga mungkin?.” tanya Angga.
“ Tio pernah bilang, ga akan ada lagi yang mau sama aku.” Jawabku. Angga dan Teddy mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kenapa emangnya?.” Tanya mereka serentak.
“ Kata dia karena gue punya penyakit.”
“Emang lo sakit apa?.” Tanya Angga.
“Diabetes.”
“Udah periksa?.”
“Belum.”
“Ada riwayat keluarga?.”
“Ngga ada, orang tua gue ga ada yang diabetes.”
“Terus kok dia bisa vonis begitu?.”
“Karena dia sering liat gue minum teh botol.”
Angga dan Teddy bertatapan lagi, lalu bersamaan menghela nafas panjang dan kembali menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi. Mas Alim tertawa.
“Eh kalian kenapa sih? Aneh!.” Tanyaku sewot.
“Kamu tuh manis tapi polos dan gak pedean.” Ujar Mas Alim. “Mereka udah mikir yang nggak nggak waktu pacar kamu bilang gak akan adalagi yang mau sama kamu.” Mas Alim, Angga dan Teddy tertawa geli. Aku menepuk jidat.  
****
Malam ini malam minggu, Angga Teddy dan Mas Alim sudah pulang. Aku sendirian di kost terbaring di kasur sambil berusaha mengulang kembali pembicaraan tadi siang dan sesekali menolak telepon dari Tio. Kali ini aku harus benar benar bertanya pada diriku sendiri. Jika aku putus dari Tio maka aku tidak jadi menikah. Kalau aku tidak menikah nanti papa mama akan sedih karena aku anak perempuan terakhir yang belum menikah. Lalu para tetangga akan mulai berbisik bisik membicarakan kandasnya hubunganku walaupun sudah dua tahun pacaran dengan seorang laki laki yang sering diajak ke rumah bertemu mama dan papa. Lalu teman teman satu per satu akan menikah dan meninggalkanku melajang sendirian. Namun jika aku ingin semua itu tak terjadi maka aku harus menikah dan tidak bahagia. Tunggu….aku tidak bahagia? Aku tak percaya kali ini diriku berkata jujur.  Yup aku tidak bahagia jika menikah dengan Tio!! Jadi mengapa aku selama ini bertahan? Aku baru tersadar ternyata aku hanya ingin memuaskan semua orang dan aku terpengaruh ucapan Tio yang mengatakan bahwa tak akan ada pria lain yang mau meminangku. Kemudian aku teringat dengan ramalan Mas Alim bahwa aku akan bertemu dengan jodohku enam bulan lagi.

****
Enam bulan berlalu, kini aku telah berbahagia. Ternyata ramalan Mas Alim benar, aku bertemu jodohku seminggu sebelum ulang tahun dan dia melamarku sebulan kemudian. Sekarang aku sudah dua minggu menikah dan aku sudah memberanikan diri untuk menceritakan masa laluku kepada suami dan kedua orangtuaku. Reaksi suamiku adalah memelukku erat dan memastikan bahwa rumah tangga yang akan kami jalani tidak akan pernah ada kekerasan di dalamnya sedangkan reaksi kedua orangtuaku adalah kaget setengah mati karena tidak percaya dengan perlakuan Tio yang sehari hari terlihat manis dan sempurna itu ternyata menyakiti fisik dan bathin putri bungsunya. Meskipun begitu, yang paling penting adalah aku selamat dari menjalani bahtera rumah tangga dengan seorang pria tampan berhati serigala karena aku berani untuk mengatakan tidak pada kekerasan di dalam suatu hubungan.


Friday, June 22, 2018

BUNGA MEREKAH DI PAGI HARI by Andini NH





Pagi itu lapangan Garha Sabha Pramana dipenuhi mahasiswa/i Universitas Gadjah Mada berjubah hitam bertopi datar dan berselendang warna warni dominan kuning sesuai dengan fakultas masing-masing. Semua wajah tampak bahagia menyambut kelulusan mereka bagai bunga merekah di pagi hari dan siap untuk mengharumkan nama keluarga dan almamater. Begitu juga dengan Meiya, seorang gadis manis berparas campuran Sunda- Batak dengan tinggi badan 160cm dan berat 45kg berambut panjang hitam legam dan berkulit sawo matang  berasal dari Jakarta yang empat tahun lalu diterima di jurusan ilmu komunikasi Universitas Gadjah Mada dan pergi seorang diri ke kota pelajar tersebut dengan segudang cita cita dan harapan demi meraih impiannya menjadi seorang jurnalis. Kini, cita citanya tersebut seperti sudah tinggal selangkah lagi dalam genggamannya.
“Meiyaaaaa” teriakan itu sangat tidak asing di telinga Meiya, ia celingak celinguk mencari asal suara tersebut. Benar saja, dari kejauhan ia melihat Ratna sahabatnya berlari pelan-pelan mengenakan jubah hitam menerobos keramaian jubah jubah hitam lainnya dengan mengangkat sedikit kain kebayanya dan memegang topi datar yang hanya dijepit sedikit di sanggulnya.
“Ratnaaaa” Meiya melambaikan tangan dan menunjukkan posisi dirinya dan barisan yang sudah ia siapkan untuk Ratna.
Ratna adalah sahabat Meiya, ia adalah penduduk asli Jogja walaupun mukanya seperti keturunan Indo Arab dan berpostur lebih tinggi 10cm dari Meiya. Ratna jarang mengikuti kuliah karena ia mempunyai pekerjaan sampingan sebagai model. Meskipun begitu ia tak pernah melewati ujian sekalipun. Meiya banyak membantu Ratna dalam hal pelajaran karena Meiya terkenal rajin dan semangat menjalani kuliah. Ratna sering mengajak Meiya untuk menjalani kehidupan yang seimbang dengan mengajaknya bergaul dengan anak gaul Jogja dan mengenalkan dunia malam Jogja kepadanya. Mereka berdua menjalin persahabatan walaupun watak keduanya berbeda. Ratna cenderung lebih dewasa dan menerima dalam melihat persoalan hidup karena sejak kecil ia diasuh oleh ibunya seorang diri sehingga ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang bapak sedangkan Meiya merupakan gadis yang ambisius yang tidak ingin melihat dirinya begitu begitu saja, Meiya menginginkan sesuatu yang besar dalam hidupnya.
Ratna tiba di depan Meiya dengan terengah engah dan memegang bahu Meiya
“ Meiya, kita berhasil yeayy kita berhasil” Ujar Ratna
“Iya Rat hahhaha akhirnyaa kita bisa lulus tepat waktu ternyata kita bisa walaupun kita study hard and play harder hahhhaha” Balas Meiya
“Iya Mei, salah dong… play hard, study harder hahahhaha” jawab Ratna
“hahhaha iya bener Rat, semuanya akhirnya terbayar. Kita tinggal selangkah lagi menjemput impian kita” Meiya menjawab dengan berapi api.
kemudian Ratna membuka jubahnya untuk memamerkan kebaya yang ia kenakan.
“Tadaaa….. ini nih kebaya hasil design kamu, bagus juga ya ternyata. Kamu berbakat Mei, mungkin kamu salah masuk jurusan deh” Kata Ratna
“Halaah..design aku biasa aja ah Rat, tapi karena kamu yang pake jadinya bagus. dipake model gitu looh” Goda Meiya
“eehh tapi ini beneran, mamaku aja bilang bagus dan minta dibikinin juga tapi aku bilang  Meiya lagi sibuk urusan pindahan ke Jakarta hehehhe, kalau saja aku gak selalu mergokin gambar gambar kamu di kertas catetan mungkin aku gak minta digambarin baju kebaya sama kamu” Balas Ratna
“ heheheeh itu iseng-iseng doang, tapi sebenernya kalo ada waktu aku kepengen banget sih bisa bikin sendiri apa yang aku gambar” Jawab Meiya
            “anyway, Meiya, makasih banyak ya untuk persahabatan kita dan aku akan merindukan masa masa ini. Masa masa dimana kita yang awalnya hanya bibit bunga namun sekarang bunga itu sudah merekah dan mengharumkan”
 mereka pun berpelukan dan tak lama kemudian para mahasiswa dipersilakan memasuki gedung Grha Sabha Pramana untuk memulai prosesi wisuda.
Usai prosesi wisuda, semua peserta berhambur menemui keluarganya. Ada yang keluarganya tiba dari Banjarmasin, Papua, Padang, Medan dan lain lain. Mereka masing masing telah mempunyai acara sendiri sendiri . Ada yang sudah membooking studio foto untuk foto bersama keluarga mengenakan toga kemudian ada juga  yang sudah membooking restoran untuk merayakan hari kemenangannya. Hari itu adalah hari kebahagiaan dan kemenangan, jalanan di sekitar jalan Gejayan dan Jakal km 4,5 menjadi penuh dan ramai.
Setelah saling bersalaman dengan para orang tua sahabatnya, Meiya dan Ratna berpelukan lama.
“Mei, mungkin ini hari terakhir kita ketemu ya karena besok aku sudah harus ke Jakarta duluan untuk casting film “ Ujar Ratna
“ Yah..sayang kita gak bisa sama-sama ke Jakarta ya, aku harus menemani mama papa dulu di jogja dua hari ke depan dan pulang ke Jakarta bersama mereka” Jawab Meiya
“Iyah, makanya..keep in touch ya, nanti di Jakarta kita sempatin ketemuan yah.. kamu take care, sampai Jakarta harus segera melamar ke media-media sesuai dengan cita cita kamu. Oke?”
“Pasti dong Rat… aku sudah ga sabar untuk melebarkan sayap dan nongol di TV bacain berita  hahahha..see you soon yaaa”
Ratna dan Meiya akhirnya berpisah setelah empat tahun kedekatan mereka bersama sama menuntut ilmu demi menggapai cita-cita dan berpisah juga untuk meraih impian masing –masing

Monday, February 26, 2018

Cinta Mama dan Papa di Mata Dini



CINTA MAMA dan PAPA DI MATA DINI

Oleh : Andini NH

                Sore itu, mama dan papa sedang asyik bercengkrama di ruang keluarga. Mereka saling membicarakan aktivitas mereka seharian di kantor
“pa, bu Irma itu sepertinya merasa tersaingi oleh mama “ ujar mama
“kenapa dia ma?” tanya papa penuh perhatian.
“iya, dia itu gak suka kalau mama diangkat jadi kepala bagian” jawab mama
“loh kok gitu? Memangnya dia mau menjadi kepala bagian?” tanya papa
“iya sepertinya, dia kan sudah lama menjadi staf di situ. Mama ini orang baru tapi sudah langsung diangkat “ jelas mama
“oh..dikira gampang ya menjadi kepala” lanjut papa
“Itulah pa..fikirannya bu Irma memang selalu begitu “ tegas mama
Tak jauh dari mereka Dini yang msih berusia delapan tahun tanpa disadari sedang menyimak percakapan mereka sejak tadi
“ih…mama dan papa suka ngomongin orang ya..kata bu Asma kan gak boleh omongin orang” celetuk Dini dengan polos. Sontak mama dan papa tertawa
“loh..nggak dong Din…ini mama dan papa sedang bertukar fikiran”.  Jelas mama
Dini pun mengangguk angguk.
            Dini selalu melihat kedua orangtuanya harmonis dan penuh kasih sayang. Dalam benaknya tak ada pasangan sempurna seperti mama dan papa. Apalagi Dini selalu mendengar awal kisah perjumpaan mereka hingga akhirnya berkeluarga dan memiliki Dini dan Ade adik lelakinya. Bagi Dini, keluarga sempurna itu harus seperti keluarganya yaitu rukun, damai dan bahagia.
            Ketika Dini dan Ade kuliah di luar kota, iamendapat kabar bahwa papa dimutasi ke Berastagi Sumatera Utara untuk menjadi kepala kantor di sana. Alhasil, mama sendirian di Jakarta karena mamapun masih aktif bekerja. Suatu hari Dini mendapat telepon dari mama
“Din, mama ambil cuti seminggu” Kata mama
“Oh yaa assikkk mama mau ke Jogja ya temuin Dini?” tanya Dini girang
“Maaf Din, mama gak bisa jenguk kamu dulu, mama mau ke Brastagi temuin papa, mama kangeeen banget sama papamu. “ jawab mama
“ooh…..” ujar dini
“kamu baik-baik ya di Jogja” pesan mama
“baiklah ma…salam untuk papa” jawab Dini
Sejak papa di Brastagi, Dini tak lagi menjadi prioritas mama. Jatah telpon dan cuti mama dipakai untuk berhubungan dengan papa. Cinta mama kepada papa sungguh besar, sepertinya ia tak mampu hidup tanpa papa.
            Sudah seminggu mama di Brastagi, akhirnya mama kembali menelepon Dini.
“ Din, mama sebel sama papa” ujar mama
“loh kenapa ma? Minggu lalu bilang kangen banget” sindir Dini
“ iya.. kan mama itu kangen banget sama papa sampe dibela belain ambil cuti supaya bisa melepas kangen sama dia. Eh…disana mama malah dicuekin” jawab mama
“ Dicuekin? Dicuekin gimana? Kok papa begitu?” tanya Dini
“Gini lho Din, papa disana berangkat kantor pagi pagi, pulangnya baru sore. Mama tungguin papa bengong bengong di rumah. Pas papa pulang kan mama berharap papa perhatian sama mama. Eh… ini sih biasa aja tuh. Ih mama gak betah seharian di rumah gak ngapa-ngapain” jawab mama
Dini hanya menghela nafas. Dini tau, mama itu wanita karir. Pantaslah dia tidak bisa di rumah mengurusi hal hal rumah tangga. Mama dan papa itu terbiasa bertemu di sore hari selepas pulang kantor dan saling bercerita tentang aktivitas masing masing di hari itu. Kalau mama tidak bekerja ya dia tidak ada sesuatu yang bisa diceritakan pada papa.
            Akhirnya, ketika lebaran tiba kami semua dapat kembali berkumpul bersama di Jakarta. Tradisi ketika lebaran adalah keluarga duduk melingkar bersama kerabat lain yang datang berkunjung lalu masing masing anggota keluarga meminta maaf dimulai dari anggota keluarga termuda. Masing masing anggota mendapat giliran untuk berbicara sesuai urutan . Yang terakhir adalah yang tertua. Kini, tiba giliran mama berbicara
“ Anak-anakku, hari ini adalah hari teristimewa bagi mama karena kita dapat berkumpul bersama. Bagi mama, bersatu dengan kalianlagi dan papa adalah tak ternilai harganya” kemudian tangis mama pecah mengusik hati Dini dan Ade. “kalau mama boleh meminta kepada Allah swt, mama mohoon…agar kita semu dipersatukan kembali di rumah ini. Taka da yang lebih membahagiakan daripada hal tersebut” begitulah pidato lebaran mama.
            Ternyata, beberapa tahun kemudian akhirnya doa mama dikabulkan. Papa kembali bertugas di Jakarta. Dini lulus kuliah dan mendapat pekerjaan di Jakarta. Ade menyusul dua tahun berikutnya pulang ke Jakarta setelah menuntut ilmu empat tahun di Bandung. Papa mendapat promosi kenaikan jabatan. Kehidupan keluarga Dini mulai meningkat. Mama diberi supir dan mobil sendiri oleh papa. Rumah nyaman mereka direnovasi dan diperluas sesuai dengan keinginan mama.
            Namun, kebahagiaan tersebut tak berlangsung lama. Dini melihat ada kejanggalan dalam hubungan mama dan papa. Dini tak lagi mendapatkan pemandangan perbincangan kedua orangtuanya di sore hari. Papa semakin tenggelam dengan pekerjaannya, mama merasa sendirian dan mencari kesibukan dengan mengikuti beberapa majlis taklim. Suatu hari, ketika papa sedang sendirian menonton tv di ruang keluarga, mama sedang berada di dalam kamar. Tiba tiba telepon selular papa yang ketinggalan di kamar berbunyi.
“ Halo mas, kita jadi ketemu gak?” tanya seorang wanita dari nomor yang tidak ada namanya
Mama yang mengangkat telepon selular papa seketika dadanya bergemurh kencang seolah-olah dapat terdengan ke seluruh ruangan.
“ Halo? Mas..” ujar wanita itu lagi.
“ eh….ini siapa ya?” tanya mama dengan tangan dan kaki gemetaran.
Tut……tiba tiba suara telepon terputus, wanita nomor tak dikenal tersebut mematikan teleponnya. Mama masih berdiri kaku memegang telepon seluler milik papa. Kemudian ia lagsung keluar kamar menghampiri papa. Amarahnya tak dapat ditahan lagi .
“ Ini nomor siapa?!!” bentak mama kepada papa. Papa yang kelihatannya sedang asik selonjoran nonton televise padahal pandangannya kosong dan jiwa sedang tak berada di dalam rumah langsung kaget.
“Ada apa sih ma siang siang bgini teriak teriak!” jawab papa dengan nada yang tak kalah tinggi.
“Udah deh papa gak usah berkelit, ayo jawab aja papa siang ini mau kemana sama perempuan itu?!” teriak mama. Dini yang sedang tidur-tiduran di kamar kaget dengan suara keributan di ruang televise. Dini langsung tahu bahwa itu suara papa dan mama yang tak biasanya bernada tinggi semua. Dini buru buru keluar kamar begitu juga dengan Ade. Ade langsung berdiri di tengah mama dan papa.
“Kenapa ini ma…?kenapa pa?” tanya Ade.
“Tuh! Papa kamu tuh selingkuh!!” jawab mama sambil menangis. Dini terpaku, matanya berkaca-kaca setengah tak percaya. Papa selingkuh? Selama ini papa adalah potret suami sempurna di mata Dini.
“Bener pa?” tanya Ade kepada papa yang sedang duduk tertunduk dan menggaruk kepala
“Apa sih? Itu Cuma urusan kantor ! urusan kerjaan!”  jawab papa membela diri.
“Sudahlah ma… jangan curigaan… itu papa mengaku hanya urusan kantor saja” Ujar Ade menenangkan mama.
Mama berlari masuk ke kamar dan mengunci pintu. Mama tampak yakin akan pendiriannya bahwa papa selingkuh. Bagaimanapun juga mama pasti sudah mengenal sifat papa sehingga apa yang terjadi pada diri papa sudah diketahui mama walaupun papa tak berterus terang. Firasat seorang istri terhadap suami pastilah kuat karena mereka berdua tak pernah pisah ranjang apalagi pisah rumah selama puluhan tahun.
            Hubungan papa dan mama makin hari makin memburuk. Mama selalu menuduh papa selingkuh. Badan mama kian hari kian menyusut. Wajahnya tak lagi bersinar meskipun sudah ia tutupi dengan lipstick mahal. Senyum itu hilang membuat wajah mama bagaikan senja yang mendung. Papa selalu menyangkal selingkuh walaupun sudah sangat terlihat jelas kelakuannya yang berbeda. Pulang selalu larut malam, terima telepon sembunyi sembunyi dan sering keluar kota di akhir pecan dengan dalih kerjaan. Dini beberapa kali melihat mama menangis. Mama kesepian karena papa mulai tak memperhatikan dirinya dan tak ada lagi saling bertukar fikiran di sore hari selepas bekerja. Dini selalu berdoa agar mama dan papa tidak bercerai karena ia tak mau kelak dipandang sebelah mata oleh orang tua calon suaminya.
            Beberapa tahun kemudian tiba saatnya Dini menikah, papa dan mama tidak pernah bercerai. Malahan mereka lambat laun mulai terlihat akrab kembali. Tak lama setelah Dini menikah, papa pensiun. Sejak pensiun, sikap papa sudah berubah jauh lebih baik lagi terhadap mama. Kata mama, papa sekarang mulai mesra lagi dan tambah sayang terhadap mama. Mungkin setelah ia pensiun ia baru menyadari bahwa setelah ia tak punya jabatan lagi, ia masih memiliki keluarga yang utuh. Namun, tak semudah itu bagi papa untuk dapat merebut kembali hati mama. Fikiran mama masih selalu terseret akan masa lalu dimana papa begitu acuh padanya. Kalau papa mulai mengajak mama bermesraan, mama malah mendadak marah marah dan mengungkit masa lalu. Meskipun begitu, Dini tahu bahwa mama masih mencintai papa malahan sebenarnya cinta mama itu jauh lebih besar . Hanya saja, menyembuhkan luka hati itu tak semudah memberi obat luka pada tempat yang terluka dan menutupnya dengan perban. Butuh komitmen untuk berjanji bisa melupakan dan butuh kebesara hati untuk mau memaafkan. Lama kelamaan, berkat cinta mama jugalah akhirnya mama pelan pelan memaafkan papa dan mereka kembali terlihat mesra. Apalagi pada momen disaat Dini melahirkan anak pertamanya.
Mama keluar dari kamar operasi dengan lari lari tak sabar mencari papa di ruang tunggu
“Papa…papa….Dini sudah melahirkan!!” mama memeluk papa erat dan air matanya menetes.
“Alhamdulillah ma…perempuan atau laki-laki?” tanya papa dengan mata berkaca-kaca
“perempuan..pa…akhirnya kita punya cucu pa…” mama tak kuasa menahan kebahagiaan hingga ia mencium cium papa. Itulah titik balik kemesraan mama dan papa.
            Hampir sepuluh tahun sudah mama dan papa menjadi kaken dan nenek yang bahagia. Cucunya sudah bertambah menjadi hampir lima orang. Tiga dari Dini dan hampir dua dari Ade. Pada suatu Subuh mama seperti biasa hendak mandi sebelum menunaikan ibadah sholat Subuh namun tiba tiba mama berteriak memanggil papa
“ Pa…pa..” teriak mama dari dalam kamar mandi. Gubrak!! Terdengar suara orang jatuh dari dalam kamar mandi. Papa segera berlari masuk ke kamar mandi.
“ Mama!!” teriak papa seketika melihat mama sudah terjatuh di lantai. Papa menggendong mama keluar kamar dan menempatkan mama di kasur dengan hati hati.
“pa…mama pusing pa…telepon Ade pa….telepon Dini pa…cucu cucu…” suara mama semakin lama semakin tak terdengar dan mama mulai tak sadarkan diri. Papa panic sendirian dan lansung menelepon Dini, Ade dan dokter tetangga. Seketika mama langsung dibawa ke IGD dan langsung dipindahkan ke unit perawatan intensif. Dini dan Ade datang hampir bersamaan. Mereka berdua banjir air mata melihat mama dari balik kaca. Papa sedang berada disamping mama dan tak lama dipinta suster untuk segera keluar ruangan. Dini dapat dengan jelas melihat papa membisikkan ke mama “Selamat ulang tahun pernikahan ke 37 ma, papa sayang sama” lalu papa mengecup kening mama dan meninggalkannya”
Dini menangis sesenggukan sebab ia menjadi saksi kisah cinta mama dan papa. Dini memetik pelajaran bahwa cinta sepasang manusia itu akan mengalami pasang surut namun pada akhirnya kehidupan akan berjumpa dengan akhirnya maka hargailah cinta kita sebelum cinta tersebut hilang.

Wednesday, February 14, 2018

Beautiful Mama



BEAUTIFUL MAMA

            Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara, aku anak perempuan satu satunya. Sejak kecil aku bangga melihat mama dan bercita cita kelak akan menjadi seperti beliau. Mama biasa berangkat ke kantor pagi pagi. Dia mengenakan blouse pendek, rok mini dan sepatu berhak. Tubuhnya ramping, potongan rambutnya pendek dan mengenakan kalung mutiara sepanjang dada, terkadang kalung bebatuan terkadang kalung manik manik. Dia punya banyak koleksi kalung. Aktivitas wajibnya sebelum keluar dari daun pintu rumah adalah duduk di kursi tamu, mengoleskan lotion bermerek Citra ke tangan dan kakinya yang berkulit kuning langsat. Warna kulit mama tidak seperti warna kulitku yang sawo matang, aku cenderung seperti papa. Dulu, aku pikir mama mendapatkan warna kulitnya karena rajin memakai lotion Citra yang slogan iklannya adalah : kecantikan kulit wanita Indonesia.
Hari pertamaku di Sekolah Dasar, mama izin masuk kantor siang hari karena ingin mengantarku. Aku duduk di bangku deretan tengah, tangan terlipat di atas meja. Aku tak mengenal sekelilingku. Yang aku kenal hanyalah wajah mama yang kulihat di jendela.Wajah mama berseri-seri dan sesekali memberi jempol kepadaku.
“Ayo anak-anaksiapa yang tahu Sila Pertama Pancasila”. Tanya bu Guru kepada murid murid di kelas. Beberapa anak ada yang mengacungkan tangan, yang lainnya malu malu termasuk diriku. Aku menoleh ke jendela mencari cari mama. Mama menatapku dan mengacungkan jarinya mengisyaratkan bahwa ia menginginkan aku untuk tunjuk tangan.
            Setiap pekan di sore hari, mama gemar bermain volley dengan ibu-ibu komplek. Mama mengenakan celana pendek seperti ibu-ibu lainnya. Suatu hari papa meminta mama untuk mengenakan celana panjang saat bermain volley namun mama mengabaikan perintah papa akhirnya mama sempat terjatuh dan lututnya luka parah. Sejak itu ia tak lagi mengenakan celana pendek dan mulai mengenakan hijab.
            Ketika aku kelas 5 SD, mama harus meninggalkanku untuk menuntuk ilmu di Arkansas, USA selama enam bulan. Mama yang aku kenal adalah seorang yang berkemauan kuat dalam hal menggapai cita citanya. Ia benar benar mengerahkan semua kemampuannya dan rajin beribadah. Sebelum berangkat ke USA, mama sibuk mempersiapkan ujian TOEFL. Ia selalu belajar di kamarnya dan terkadang menginap di tempat lain agar tenang dari keributan yang aku dan adikku perbuat. Waktu itu, yang aku inginkan adalah menjadi seperti mama. Wanita hebat, pintar dan kuat. Sepulang dari USA, berat badan mama meningkat drastis akibat berada di sana ketika musim dingin.
            Ketika aku SMP, mama sering mengajakku ke kantor. Mama punya ruangan sendiri dan beberapa anak buah. Aku bangga melihat mama menjadi seorang yang disegani di kantor walaupun harus menempuh jarak yang sangat jau setiap hari dari rumah ke kantor.
            Menjelang lulus SMU, aku sering berantem sama mama. Penyebabnya hanya soal gaya belajarku. Aku sangat berbeda dengan mama. Aku tidak punya kemauan kuat untuk menggapai sesuatu.
“BRAKK” mama mendobrak pintu kamarku. Aku yang sedang asyik bercermin langsung ketakutan . Mata mama melotot dan menghampiriku.
“ Ya Ampun! Disuruh belajar kok kamu malah ngaca! Mama buang ya kacanya!” Mama bergegas mencopot cermin yang bergantung di dindingku dan menaruhnya di gudang.
Pernah juga ketika malam-malam aku menerima telepon dari teman pria yang menyukaiku tiba tiba mama membuka pintu kamar dan teriak
“EEh… ini anak bukannya belajar malah telepon teleponan. Bagus ya! Mau jadi apa kamu kalo tidak lulus UMPTN mama tidak akan kuliahin kamu!”
Tanpa ba bi bu lagi dan aku keburu malu dengan temanku tersebut akhirnya telepon langsung aku tutup.
Di sekolah, aku terlihat murung walaupun nilai nilaiku cemerlang.
“Ya ampun Lin.. lo tu kayak terlalu diforsir banget “ Ujar Citra.
“Iya..tiap pulang sekolah selalu….les bimbingan belajar” Kata Ima.
“Hari ini aja yuk bolos les, kita kemana yuk jajan” Ajak Yolla.
Aku tertarik dengan ajakan Yolla. Dua jam sebelum pelajaran sekolah berakhir, aku menelepon mama dari kantor Tata Usaha sekolah.
“Ma..Lina hari ini izin gak les ya, Lina mau pergi sama temen temen” Begitulah aku minta izin dengan polosnya.
Bel pulang sekolah berbunyi. Tiga sahabatku menghampiri dan kita bergegas keluar gerbang sekolah namun baru saja sampai pintu gerbang tiba-tiba aku melihat mama sudah di luar. Aku benar benar tak menyangka karena aku fikir mama masih di kantor rupanya sedetik aku minta izin tadi mama langsung keluar kantor untuk menjemputku di sekolah. Akhirnya aku berjalan menuju mama dan mama mengantar dan menungguku sampai les selesai.
            Akhirnya pengumuman UMPTN itu tiba. Pagi-pagi mama sudah membeli Koran KOMPAS dan buru-buru mencari nomor pesertaku. Tak disangka akhirnya perjuanganku membuahkan hasil. Kami menemukan nomor persertaku tertera di Koran tersebut. Aku lulus ujian masuk Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). UGM adalah kampus dimana dulu mama dan papa pertamakali bertemu. Mama langsung mencium dan memelukku erat dan kami berguling-guling di lantai.
            TIba saatnya aku berangkat ke Jogja. Aku melihat wajah mama penuh haru. Usianya tak lagi muda, air mata menetes di sela sela kerutan matanya. Aku berjanji tak akanmengecewakan mama.
            Aku berhasil menyelesaikan kuliahku dalam waktu 4,5 tahun dan kembali ke Jakarta. Mama sudah tak sabar menunggu fase kehidupanku selanjutnya yaitu menikah.Mama sudah amat sangat merestui hubunganku dengan pacarku. Namun sayangnya, pacarku masih harus di Jogja karena belum menyelesaikan kuliahnya. Akan tetapi, rencana tidak sepenuhnya berjalan lancar. Bukannya menyelesaikan kuliah, dia malah mendapatkan pacar baru. Akhirnya kami putus dengan tidak baik. Aku berhari hari mengunci diri di dalam kamar menangis dan tidak selera makan. Mama berhari hari itu pula menangis depan pintu kamarku memohon agar aku mau keluar dan kembali ceria.
            Badai telah berlalu, aku mendapatkan pekerjaan bagus dan karirku menjanjikan. Pada hari itu, sehari setelah lebaran aku masuk kantor dengan semangat akan tetapi kantor masih sepi karena masih dalam cuti lebaran.
“Lina, kamu ke ruangan saya ya” Pak Restu atasanku memanggilku melalui telepon.
“Ya pak?” tanyaku ketika sudah berada di ruangannya.
“ Besok ada syuting iklan perusahaan kita. Bintang iklannya pengusaha sukses. Saya mau kamu besok jadi PICnya. Jangan mengecewakan ya”. Perintah Pak Restu.
“Baik pak” Ujarku.
Keesokan harinya aku itba pagi sekali dengan tampilan prima. Syuting iklan perusahaan dilaksanakan di kantor. Di akhir acara kita semua berfoto bersama sang bintang iklan dan asisten eksekutifnya. Setiba di rumah, aku memperlihatkan mama foto tersebut. Mama menyentuh gambar sang bintang iklan dan berujar : “Ya Allah semoga ada kerabat atau orang kepercayaan bapak ini yang akan menjadi jodoh anak saya,Amiiin”. Doa mama.
            Tak disangka, seminggu kemudian aku bertemu lagi dengan asisten eksekutif pengusaha sukses sang bintang iklan perusahaan tempat aku bekerja. Sejak itu kami mulai berpacaran dan tak lama langsung menikah. Mama pernah bilang : “ Lin tau ga? 10 hari terakhir bulan Ramadhan mama selalu Tahajjud agar lina segera mendapat jodoh . Lina akhirnya ketemu jodohnya kira kira dua minggu setelah lebaran kan ? Tandanya doa mama terkabul”.
            Akhirnya aku menikah, mama sangat gembira apalagi setelah Sembilan bulan kemudian cita citanya untuk segera menimang cucu terkabulkan. Mama yang menemani persalinanku, mulutnya tak berhenti komat kamit mengaji Yassin agar kita semua selamat. Alhamdulillah akhirnya operasi cesarku berjalan lancar.Kata suamiku, mama langsung keluar kamar operasi berlari kencang menuju ruang tunggu dimana suami dan saudara berkumpul
“Lina sudah melahirkan! Lina sudah melahirkan!” teriak mama.
“Pa..kita akhirnya punya cucu pa…cucu kita perempuan” ujar mama ke papa.
            Dalam lima tahun pernikahan, aku sudah memberikan 3 cucu perempuan untuk mama. Aku selalu bersyukur mama masih sehat dan masih bisa dititipkan anak-anak jika aku dan suami bepergian keluar kota. Mama sangat senang jika cucu cucunya berkumpul di rumah.
            Suatu pagi, tepatnya dini hari usai menunaikan sholat Subuh, aku menerima telepon dari papa
“Ya pa?” jawabku
“Lin, mama masuk IGD, kamu segera ke rumah sakit” Papa bicara terbata bata.
Seketika badanku lemas dan dada ini terasa sesak sekali. Fikiranku langsung bertanya tanya bagaimana kalau hari ini hari terakhir ketemu mama? Bagaimana? Dan bagaimana?
Sesampai di IGD, adikku dan papa sudah di situ. Aku dipersilakan masuk untuk melihat keadaan mama. Namun aku tak kuasa menahan tangis saat kulihat mama tak berdaya. Satu hal yang selalu berkecamuk dalam fikiranku saat itu adalah bagaimana jika ini hari terakhir mama di dunia sedangkan aku masih banyak berdosa pada beliau dan belum dapat membahagiakannya. Saat itu, aku tak mau meninggalkan mama. Aku genggam tangan mama, aku cium cium mama. Aku ingat saat saat ketika aku melahirkan anak-anakku , mama selalu ada disampingku membacakan ayat ayat suci Al Qur’an. Aku ingat saat saat dimana aku tak peduli perasaan mama, tak pernah membahagiakan mama. Aku tak menyangka hal ini terjadi. Rasanya waktuku tak banyak lagi untuk menebus semua dosa dosa dan berbhakti kepada beliau.
            Mama dirawat di ICU selama 3 minggu tak sadarkan diri karena pembuluh darah otak sebelah kanan pecah. Bagian tubuh mama sebelah kiri lumpuh. Aku hanya dapat melihat mama di balik kaca dan 1-2 kali diperbolehkan masuk. Suatu hari dokter memanggilku.
“Bu, Ibu anda hari ini sudah boleh keluar ICU karena kondisi tensinya sudah stabil , kami akan segera pindahkan ke ruang rawat inap” Begitulah dokter menginfokanku.
Sujud syukur, aku bahagia Allah masih memberi waktu kepadaku untuk berbhakti kepada mama. Saking bahagianya dengan kabar tersebut aku berfikir mama sudah kembali normal ternyata fikiranku salah. Meskipun mama sudah dapat membuka mata dan berbicara namun ingatannya masih terbatas, ucapannya tidak jelas dan tidak dapat menggerakkan sebagian besar anggota tubuhnya.
            Mama, yang dahulu aku bangga karena kegesitannya, kegigihannya dan ketekunannya kini terbaring lemah tak berdaya. Ia orang pertama yang aku kabarkan atas kemahiran dan kebisaanku, sahabatku sekaligus musuhku. Kini mama seperti bayi lagi yang harus belajar makan, belajar bergerak, memakai pampers, terbaring lemah di tempat tidur. Aku beberapa kali memandikan mama dan membersikah kotorannya, membacakannya ayat suci Al Qur’an dan membacakan cerita. Sekarang, aku tak bisa dengan mudahnya bercerita kepada mama melalui telepon.
MAMA…..AKU KANGEN MAMA YANG DULU…
Seandainya situasi dan kondisi tak dapat kembali seperti dulu..maka izinkan aku membahagiankanmu di masa tuamu…..



Febuary, 14th 2018
Lina