Live Learn and Write

a piece of short stories everyday

Sunday, July 5, 2020

Batik Lawas

BATIK LAWAS

Oleh: Andini Naulina


            Rumah yang baru kubeli di daerah Jakarta Selatan setengah tahun lalu akhirnya sudah selesai direnovasi. Aku membuat rumah dengan model Rumah Joglo yang terasnya luas tak bersekat dan di tengahnya disokong oleh  empat pilar-pilar kayu jati . Konon, Rumah Joglo dianggap bukan sekedar rumah melainkan lambang kekayaan karena biasanya Rumah Joglo hanya mampu dimiliki oleh orang orang yang kondisi finansialnya bagus. Interior rumah ini penuh dengan hiasan batik-batik lawas dengan bingkai kayu yang kemudian menjadi semakin cantik disorot oleh pencahayaan accent light. Perabotannya pun didominasi oleh kayu jati karena aku sangat keranjingan dengan lemari atau kursi seperti  kepunyaan Eyang Putri sebelum rumahnya terbakar. 
 “ Wow good job babe! “ Arya bertepuk tangan kencang. Aku yang sedang asik menikmati teras di rumah baru celingukan mencari empunya suara. Arya muncul dari pintu pagar. 
“ Gila! Hampir saja jantungku copot! ” Aku berdiri menyambut Arya si pria yang tampan, tinggi , berkulit sawo matang , lebih muda dariku dan sudah setahun menjadi pacarku.  Aku baru akan memeluknya akan tetapi Arya sudah melayangkan kecupan dan melumat bibirku, kedua tangannya memeluk pinggang dan mengangkat tubuh mungilku mendekap erat hingga aku hampir kesulitan bernafas. 
“ Kangen, “ katanya. Ia melepasku kemudian menggenggam tanganku. Aku menghela nafas.  “Yuk kita berangkat sekarang? “ Tangannya menarik tanganku sehingga aku ikut tergeret langkahnya. 
“ Wait, kamu gak mau tur rumah baruku dulu? “ Aku menghentak genggamannya. Arya ikut berhenti kemudian pandangannya teralihkan oleh penampilanku, ia memperhatikan dari ujung rambut sampai ke kaki.
“ Wow! You are so gorgeous!... Aku pangling melihat kamu mengenakandressmini berwarna putih, bertelanjang kaki dan rambut tergerai kayakgini. Kamu seperti bukan Ibu Miranti yang terkenal garang di kantor, ” Arya tertawa menggoda, matanya berbinar seakan dia baru pertama kali bertemu denganku. 
 “ Jadi aku kalodi kantor keliatan garang ya? Kokkamu mau sama aku? “ aku berbalik badan sambil mengibaskan rambut. Arya menyusul kemudian memeluk pinggangku.
“ Welljustru aku suka wanita yang dominan di luar tapi keibuan di dalam… Anyway tur kan bisa nanti, kasihan orangtuaku sudah menunggu kita di rumah. Lagipula sebentar lagi kankita jadi suami istri jadi bisa lebih banyak waktu menikmati rumah ini, “ godanya.
“ Cheesy. “ Aku mencubit pinggang Arya. Arya tertawa lagi.
“ By the waywhere’s the restroom? “ Tanyanya.
“ Itu, di ujung ruangan di pintu kedua dari kanan, “ jawabku. Arya melangkah menuju arahanku.
Sambil menunggu Arya menyelesaikan urusannya di kamar mandi, aku pun menyiapkan diri mulai dari menyisir rambut kemudian mengulas tipis bibirku dengan lipstick berwarna nude dan terakhir menyemprot cologneJustmine by Jo Malone di leher dan lengan bawah bagian dalamAku tak bermaksud membuat kedua orang tua Arya menyukaiku maka aku akan tampil sederhana dan apa adanya saja. Lagipula sebenarnya bukan keinginanku untuk dikenalkan ke mereka karena aku selalu canggung dan cenderung sarkasme bila bertemu dengan orangtua siapapun juga. Itulah sebabnya aku masih sendiri sementara orang lain seusiaku sudah berkeluarga. Tiba-tiba ponselku berdering, aku mencari-cari benda itu namun arah suaranya bukan dari sekitarku melainkan dari arah kamar sebelah kamar mandi. Aku segera berlari ke kamar itu dan di situ aku melihat Arya sedang menggenggam ponselku, tangan satunya menutup hidung sambil jongkok menghadap sebuah bingkai di sebelah lemari kayu tua yang sedikit terbuka memperlihatkan kain-kain batik kuno beraroma lapuk.  Tatapannya fokus terhadap satu- satunya hiasan dinding yang belum terpasang di rumah ini yang bukan batik lawas melainkan potongan in depth storydari Koran Nasional soal kebakaran Rumah Joglo di Desa Wirobrajan, Yogyakarta pada tahun 1991. 
“ Arya! Kamu lagi ngapain di sini? Kamar mandi ada di sebelah kamar ini. “ Aku menarik Arya agar ia mau keluar dari kamar itu. Kaki Arya sama sekali tak mau bergerak, ia masih saja membaca tulisan-tulisan yang ada di dalam bingkai. Aku mulai panik, dadaku terasa sesak.
 “Arya PLEASEkeluar! “ Aku menarik punggungnya hingga ia berbalik melihatku yang sedang menunjuk tangan ke arah pintu sambil melotot. Aku mengutuk diriku yang lupa mengunci kamar rahasia ini. Tak boleh satu pun orang yang masuk kamar ini selain aku karena kamar ini adalah bagian diriku yang lampau dan aku belum siap membaginya kepada siapapun juga. Arya tercengang, ia tak pernah melihatku membentaknya sehisteris itu. 
“ Mira kamu kenapa? Kenapa di lemari itu banyak batik-batik usang yang baunya busuk dan ada apa dengan cerita di dalam bingkai foto itu? Mengapa ada gambar rumah joglo yang terbakar? Itu rumah siapa? “ Arya mencengkeram dan sedikit mengguncang bahuku. 
“ Kamu terlalu banyak bertanya, Arya. Sebaiknya kita batalkan saja pertemuan dengan orang tuamu hari ini,” tukasku. Aku berlari menuju pintu luar dan menunggu Arya mendekat lemas dan menunduk.
“ Mira , Sayang… maafkan aku kalau aku terlalu mendesak kamu. Tapi kalau kamu sudah tenang dan bersedia menjelaskan,  aku akan selalu ada untuk kamu,” bujuknya. 
“ Tidak sekarang, aku minta kamu pergi.” Aku menutup pintu dan membiarkan Arya sendiri di luar.
                                                             ***


Ibuku bernama Ayu Sophia. Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga terpandang di Desa Wirobrajan, Jawa Tengah. Ayu dalam Bahasa Jawa adalah jelita sedangkan Sophia dalam Bahasa Yunani adalah bijaksana. Eyang Putri memberikan nama itu dengan harapan agar Ayu menjadi gadis cantik yang bijaksana. Namun pada kenyataannya, Ia tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang manja dan keras kepala. Kondisi finansial almarhum Eyang Kakung yang melimpah  membuat semua keinginan ibu terpenuhi. Ketika Eyang Kakung meninggal dunia, ibuku baru berusia dua puluh tahun dan ia memutuskan untuk menunda kuliahnya dan menikah dengan teman sekelasnya. Tentu saja Eyang Putri menentang tetapi ibuku malah nekat melarikan diri dan menikah siri dengan pria tersebut. Setahun kemudian yaitu awal Tahun 1981, Ibu kembali ke rumah dengan kondisi hamil tua tanpa suami yang menemaninya. Eyang Putri merasa iba karena bagaimanapun juga ibu adalah anak kandungnya. Sebulan kemudian lahirlah seorang bayi kurus dengan berat hanya 2,5 kilogram dan diberi nama Kasmirah. Eyang putri memberikan nama Kasmirah untukku dengan harapan agar aku menjadi wanita yang pandai menyimpan rahasia, kuat, percaya diri dan pintar mengendalikan situasi. 
“Mengapa Eyang berharap agar Mirah menjadi wanita seperti itu? “ tanyaku ke Eyang Putri ketika aku berusia sepuluh tahun. Sore itu kami berdua sedang duduk-duduk di teras Rumah Joglo milik Eyang. Tangan Eyang yang keriput meraih kepalaku dan menempatkan di pahanya yang berbalut kain batik kuno. Kedua tanganku memeluk kakinya kemudian wajahku kuarahkan ke kain batik Eyang, kuhirup aromanya sedalam mungkin kemudian perasaan tenang itu datang menyelimuti hati. 
“ Kamu pasti kelak akan mengetahui nduk,kali ini Eyang yakin kamu akan menjadi sesuai harapan Eyang. “ Eyang membelai rambut lurusku, jemarinya seolah mengantarkan energi positif berasal dari doa- doa yang setiap hari Ia panjatkan untukku. 
“ Yang, sepertinya waktu kecil Mirah selalu bermimpi melihat ibu dan seorang pria menarik-narik tubuh Mirah. Saya kesakitan sampai menangis, lalu Eyang selalu datang dan memarahi laki-laki itu. Saya diambil dan digendong Eyang pakai kain batik Eyang lalu saya berhenti menangis karena saya tau saya sudah selamat di pelukan Eyang kemudian karena terombang ambing ke kanan dan ke kiri akhirnya saya bisa tidur pulas. “ Tiba-tiba jemari Eyang berhenti membelai kemudian mengangkat bahuku sehingga aku terbangun menatap wajah Eyang yang semakin keriput. “Kenapa Yang? “ tanyaku.
“ Kamu inget itu nduk? “
Aku mengangguk, “ mimpi itu sepertinya sangat nyata jadi saya selalu teringat.”
Eyang memelukku agak lama kemudian aku mendengar isakan tangis, aku melepas pelukan Eyang dan melihat mata Eyang sudah basah. “ Itu ayahmu, waktu kamu lahir ia tak mau bertanggung jawab dan menelantarkan kamu dan ibumu. Setahun kemudian dia selalu datang meminta uang pada ibumu karena ia tak mampu lagi untuk membiayai kuliahnya dan tak punya pekerjaan . Jika kami tak memberinya maka ia akan mengancam untuk merebutmu.”
“ Sekarang bapak dimana Yang? “
“ Maafkan Eyang nduk,kami terpaksa melaporkannya ke polisi agar bisa hidup tentram tetapi ternyata bapakmu tak kuat mental. Ia depresi dan akhirnya bunuh diri. OpoKowemau mengunjungi makam bapakmu nduk? “
“ Kalau dibolehkan Eyang. ” Aku kembali memeluk paha Eyang dan menghirup wangi tua dari kainnya. 

***
            Sore itu ternyata adalah perbincangan terakhir aku dengan Eyang. Aku tak mau keluar dari kamar dan selalu menangis selama satu bulan . Aku memeluk semua kain-kain Eyang dan menghirup aromanya  sampai-sampai tubuhku pun sudah berbau sama dengan Eyang. Ibu beberapa kali mencoba membuatku keluar kamar dengan caranya yang khas yaitu mengancam. Sejak kecil komunikasinya terhadapku adalah sebuah ancaman. Jika aku tak mau makan maka aku tak akan mendapat hadiah. Jika aku tak mau mandi maka aku tak boleh digendong Eyang. Jika aku tak menurut maka semua mainanku dibuang. Kali ini aku tak peduli dengan ancaman-ancamannya lagi. Apalagi sejak ia menikah dengan pria yang baru dijumpainya  setelah enam bulan Eyang meninggal dunia. Ia benar-benar wanita rapuh yang selalu butuh pria untuk mengusir kesedihannya. Ia tak bisa melewatinya hanya bersamaku saja.
            Baru sebulan usia pernikahan mereka, aku selalu lihat ibu dipukuli setiap malam lalu pria itu akan pergi sampai pagi dan terkadang pulang dalam keadaan mabuk. Seingatku, aku tak pernah melihat ibu bahagia dan aku  selalu terkena imbasnya. 
            Pada suatu pagi, kulihat lelaki itu terbangun dari kursi ruang tamu. Ibu sedang keluar rumah entah pergi kemana. Aku yang baru keluar dari kamar mandi dan masih berbalut handuk langsung lari masuk ke kamarku. Namun terlambat, suaminya ibu langsung menubrukku dari belakang sehingga aku tersungkur di atas tempat tidur. Aku berontak dan berusaha teriak tetapi apa daya aku tak dapat mengelak sebab tubuh lelaki itu sangat berat sementara tangan kirinya mendekap mulutku sedangkan tangan kanannya membuka balutan handukku dan menurunkan celananya lalu menarik perutku ke arah kemaluannya. Aku menangis kesakitan, pandanganku buyar dan gelap tak lama kemudian lelaki itu mengerang lalu mencampakkanku sambil mengancam agar aku tak menceritakan hal ini kepada ibu. Lelaki itu pergi entah kemana kuharap ke neraka. Aku hanya bisa menangis melihat darah mengotori sprei dan menahan sakit di daerah selangkanganku.
            “Ya Ampun Kas!! Kamu habis ngapain? “ tiba-tiba ibu datang. Aku tak sadar masih telanjang dan berdarah. Aku hanya bisa tergagu.
            “ Su-suami i-ibu yang melakukannya! “ 
            “ Apa?!! Dasar kamu anak durhaka! “ Ibu memukuli dan mencubitku kemudian pergi entah kemana. Kuharap mereka berdua sama sama ke neraka. Aku masih menangis sambil tertatih-tatih meraih kain Eyang dari lemari lalu kupeluk dan kuciumi sampai perasaan tenang itu datang dan kemudian aku tertidur. 
            Aku terbangun tepat pukul sebelas malam, kukenakan pakaianku lalu mengendap-endap ke kamar ibu. Kulihat ibu tidur berdua dengan bajingan itu. Aku pergi ke dapur mencari makan tapi tak kutemukan satu pun makanan melainkan korek api dan jirigen minyak tanah di pojok dapur. Aku teringat Eyang suka membakar sampah dengan dua benda itu. Aku mengambil jirigen dan menuangkan isinya ke sekeliling rumah kemudian menyalakan korek dan melemparkan ke kamar ibu. Sekejap api menyala dan membesar, aku lari ke kamar Eyang kemudian masuk ke dalam lemari kayu dan menyelimuti diri dengan kain kain Eyang. 
            Keesokan paginya aku terbangun di pekarangan rumah, orang-orang berkerumun melihat rumah joglo terbakar. Aku heran diriku tak ikut terbakar namun kuharap ibu dan suaminya sudah di neraka. Seorang wartawan meliput kebakaran itu, ia banyak bertanya namun tak satupun pertanyaannya yang kujawab. Seorang perempuan separuh baya yang kenal dekat Eyang Putri mengatakan bahwa kedua orangtuaku sudah tiada dan ia menawarkan diri untuk mengasuhku. Aku dibesarkan olehnya  dengan baik hingga lulus SMA kemudian ketika aku hendak pamit merantau ke Jakarta, Ibu asuhku  memberikan guntingan surat kabar yang isinya foto dan berita tentang kebakaran rumah Eyang pada tahun 1991. Aku membawa dan menyimpannya beserta kain-kain Eyang yang tak terbakar. 
            Tak sulit bagiku memperoleh pekerjaan di Jakarta karena selain mempunyai ijazah akupun mempunyai paras yang menawan. Aku diterima sebagai SPG kosmetik di sebuah mall dan berhasil menjual sesuai target setiap hari. Suatu hari aku dipanggil ke kantor pusat untuk menerima kenaikan pangkat.
            “ Selamat , Anda kami promosikan menjadi manajer cabang. Semoga di cabang yang baru Anda dapat meningkatkan target penjualan, “ Pak Direktur menjabat tanganku.
            “ Terimakasih Pak, saya tidak akan mengecewakan perusahaan ini, “ jawabku antusias.
            “ Bagus ! saya menaruh kepercayaan besar kepada Ibu … “ Pak Direktur mencoba membuka kembali CV untuk mencari namaku.
            “ Mira pak, Miranti “ Sentakku.
            “ Oh baik Bu Mira, Selamat datang di jajaran para manajer” Ia tersenyum. Aku tersenyum.
            Selamat tinggal Kasmirah, mulai hari ini izinkan aku mengambil alih hidup kita dan mengurung sejarah dalam sebuah ruang tertutup selamanya agar menjadi pengingat bahwa kita tak boleh lemah dan tak berdaya di hadapan siapapun.

                                                ****


Wednesday, May 27, 2020

SELAMAT


SELAMAT

(Oleh: Andini Naulina)

Pagi ini aku bergidik mengingat mimpi yang sama yang selalu bertamu sejak malam pengantin. Ini sudah masuk minggu kedua sejak aku menikah,aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku sehingga aku menjadi begitu ketakutan. Aku memang tak mau bercerita pada siapapun terutama pada orangtuaku tapi sepertinya harus diungkapkan jika aku tak ingin dikejar oleh mimpi itu lagi.
***
Siang itu, aku berjalan keluar pintu kelas setelah dua jam mengikuti mata kuliah Consumer Behavior. Aku mengenakan celana katun longgar, kemeja panjang dan sepatu keds. Rambutku yang panjang aku cepol ke atas dan bibirku tak kupulas dengan apapun. Kakiku melangkah ke dalam kantin kampus dimana Teddy dan Angga sedang asyik menikmati es teh manis di siang yang terik ini.
“Ga, Ted… gue mau putus dari Tio.” Ujarku dengan tampang kosong dan tak sedikitpun menoleh ke arah mereka berdua. Angga dan Teddy berhenti menyesap es teh manis bersamaan kemudian menoleh padaku yang masi mematung dengan tatapan lurus ke arah mbok kantin.
“ Lo lagi sakit vi?.” Teddy menaikturunkan telapak tangannya di depan wajahku. Mataku sama sekali tak berkedip tak juga tergoda dengan lesung pipinya yang muncul karena mencoba tersenyum menghiburku.
“Lo ada apalagi sama Tio?.” Angga bergerak mendekat dan tangan kanannya merangkul bahu kananku. Tak berapa lama aku menangis. Teddy berusaha duduk tepat di depanku agar tak ada orang lain di kantin yang melihat kejadian ini.
“Gue udah gak kuat, Tio kasar!.” Angga hanya mengangguk seolah dia tahu betul perasaanku lalu terdiam.
Teddy mematung , matanya menatap Angga mengisyaratkan kebingungan. Angga hanya menarik nafas panjang.
“Tadi malem tuh gue sebel banget sama dia karena satu hal terus gue mau pulang sendiri tapi dia larang alasannya sudah malam. Padahal tuh masih jam 7 malam, gue juga pernah diusir dia jam 9 malem pas lagi ribut terus gue naik taxi. Tapi gitu deh, dia kumat dan gue langsung ditarik ke mobilnya dia. Gue berontak karena gue gak mau deket sama dia, eh tiba tiba gue langsung ditinju dan dicaci maki.” Mukaku terasa panas mungkin memerah mengingat kejadian tadi malam yang membuatku marah dan sedih. Mengapa aku bisa diperlakukan seperti itu oleh kekasihku, calon suamiku. Apakah aku tak berharga di matanya? Apakah aku termasuk wanita bodoh yang diberitakan oleh koran pos kota atau berita sore di televisi? yang termasuk kategori berekonomi rendah dari keluarga tak terpandang yang disakiti oleh suaminya sndiri . Paling tidak, aku pernah menghina mereka karena pilihan pasangan mereka saat aku menonton atau membaca berita tentang wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga tersebut. Kini, tanpa kusadari ternyata aku mengalaminya sendiri dan bukan untuk yang pertamakali namun kesekian kali. Entah apa yang membuatku bertahan, aku hanya merasa takut jika aku harus berpisah dengannya.
“ Vi, lo udah sering mengalami ini?.” Teddy yang dari tadi kebingungan pelan pelan memberanikan diri bertanya padaku. Angga terlihat sedikit mengangguk. Aku memang sering bercerita pada Angga karena kebetulan dia salah satu mahasiswa Pascasarjana yang terpandai di angkatanku sehingga aku sering berkomunikasi padanya setiap selesai kuliah.
“Ngga nyangka ya Tio kayak bgitu, dia kelihatan nice, smart, gagah, sukses dan sempurna tapi….. lo yakin kan bukan lo yang cari gara-gara? Emang apa masalahnya?” Tanya Teddy lagi.
“ Ya lebih banyak ke cemburuan.. sama kalian juga dia cemburu. Apalagi Angga, kan gue soal kuliah dikit dikit tanya Angga. Tapi gue kan gak pernah jalan berduaan sama Angga satu mobil untuk nonton bareng atau makan bareng atau apalah. Nah tadi malem itu gue baca pesan singkatnya dia dengan salah satu teman kantornya. Cewek itu bilang: Makasih ya mas.. makan siang berdua yang sangat berkesan, udah diantar jemput ditraktir terus diajak nonton lagi..sering sering yaa” kataku mengingat jelas isi pesan cewek tersebut. “Terus.. Tio jawab, iya Lia.. biar kamu semangat kerjanya kapan kapan kita lunch berdua lagi ya.” Lanjutku dengan ingatan yang sangat jelas.
“Terus kalo Tio yang salah kenapa jadi lo yang kena sasaran?.” Tanya Angga.
“ Ya jadi kan gue ngambek dong, gue mau pergi dari rumahnya, gue mau pulang ke kost gue. Tapi dia ngejar gue, narik gue masuk ke dalam mobil. Di mobil gue berontak, gue mau turun dan gue gak mau ngomong sama dia. Ya akhirnya tinju mendarat di kaki dan tangan gue terus semua hewan kebun binatang keluar dari mulutnya. Nih!.” aku menggulung celanaku sampai ke lutut sehingga Angga dan Tio dapat melihat bulat bulat biru keunguan meyebar di bagian kaki dan betis. Mata teddy dan Angga terbelalak. “Nih lagi.” Aku menggulung lengan kemejaku hingga ke atas siku. Teddy dan Angga kembali melihat bulatan biru tersebut menyebar di bagian lenganku kemudian saling bertatapan.
“Ya sudah vi, kali ini keputusan lo sudah tepat yaitu mengakhiri hubungan lo dengan Tio. Gue dan Teddy support lo. Lo putusin lewat pesan singkat aja, gak usah ketemuan langsung. Gue khawatir nanti ada apa-apa mengingat sifatnya yang temperamen.” Pesan Angga terhadapku. Aku mengangguk dan meminta mereka mengantarku pulang ke kost.
***

Hari ini hari Sabtu, sudah seminggu aku jujur pada Teddy dan Angga terhadap kelakuan Tio dan ingin memutuskan Tio. Perasaanku saat ini sudah kembali normal. Aku tidak marah lagi. Rasanya aku akan memaafkan dan menerima kesalahan Tio. Tio paling bisa mengambil hatiku. Sejak kejadian itu, setiap hari dia mengirim pesan permintaan maaf dan menyesal bahkan mengirim video dirinya menangis dan merana karena kehilangan aku. Dia juga berusaha datang ke kost untuk menemuiku setelah pulang kantor untuk mengajak makan malam seperti biasa. Namun, aku selalu berpesan pada satpam kost agar selalu bilang pada Tio bahwa aku tidak mau bertemu dengannya. Tio terlihat sabar dan setiap kali datang ia selalu siap siap membawa makanan untukku jikalau aku masih tidak bersedia menemui dirinya.
Aku baru akan berdandan ketika telepon selulerku berbunyi dan layarnya tertera nama Angga.
“Vi lo dimana?.”
“di kost, kenapa Ga?.”
“Gw sama Teddy on the way kesana ya bawain makanan buat lo.”
“oh oke.”
Lima belas menit kemudian pintu gerbang kost terbuka, aku sudah menitip pesan pada satpam bahwa sebentar lagi temanku akan tiba. Angga memarkirkan mobilnya di halam an kost yang luas. Ia keluar mobil diikuti oleh teddy dan seorang pria yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Aku menggerai rambut hitam sebahuku ,mengenakan rok jeans selutut, T-shirt pendek warna putih, memoles bibirku dengan lisptik warna pink nude senada dengan blush on tak lupa sandal teplek berframe H di bagian atasnya. Teddy, Angga dan pria tak dikenal yang bertampang lebih senior berjalan menuju ruang tamu kost.
“Hai…duduk siniii ini siapa?.” Tanyaku kepada pria senior asing tersebut.
“Alim.” Jawab laki laki itu sambil menjabat erat tanganku dan matanya seolah memaku mataku. Aku berusaha melirik pada Angga dan Tio meminta penjelasan soal siapakah gerangan pria senior yang ada di hadapanku ini?
“Oh… Mas Alim… saya Vivi, temannya Angga dan Teddy.” Aku tersenyum sambil berusaha melepaskan jabatan tangan kuat itu dan menyilakan dia untuk duduk. Angga dan Teddy hanya tersenyum cengar cengir.
“Vi, kirain lagi mellow, kok lo hari ini keliatan berseri seri? Kita kesini mau memastikan keadaan lo nih kita bawain cakwe kesukaan lo.” Teddy menaruh cakwe di atas meja, membukanya lalu mencomot satu dan memasukkan ke dalam mulutnya.
“Ooh kesukaan gue apa kesukaan lo? Buat gue apa buat lo?.” Sindirku sambal tertawa garing.
“Gimana Vi, lo jadi kan mutusin Tio?.” Angga bertanya serius. Aku terdiam melihat ke arah cakwe. Kasihan Angga, dia pasti bosan mendengar hal ini. Tiap kali aku memutuskan untuk pisah dengan Tio selalu aku batalkan. Namun, baru minggu lalu aku menunjukkan bukti kekasaran Tio pada Angga dan Angga bersikeras bahwa aku kali ini harus benar benar pisah dengan Tio.
“Mm… gue sih sekarang udah gak sakit hati lagi Ga… ini udah hampir seminggu gue gak ketemu Tio tapi selama itu dia merengek maaf sama gue dan menyatakan menyesal tidak akan mengulangi.” Aku tak berani menatap mata Angga yang sepertinya sedang mengernyit tanda  tak mengerti.
“terus?.” tanya Angga seolah dia tak puas dengan jawabanku.
“Iya…trus gue fikir,mungkin gue akan memaafkan dia.” Teddy mendadak keselek cakwe, Angga menarik nafas panjang menahan dan melepaskannya perlahan, Mas Alim hanya mengangguk angguk.
“Eh Ted lo ga kenapa kenapa kan? Bentar ya gue ambilin air dulu.” Aku masuk ke kamar mengambil beberapa aqua gelas lalu menyodorkannya kepada Teddy. Teddy langsung menenggak habis air dalam kemasan tersebut.
“Lo tu sebenernya maunya apa sih vi? Lo mau babak belur lagi?.” Angga menatap tajam padaku.
“ Ya kan dia udah minta maaf Ga, dia janji gak melakukan itu lagi, dia kelihatan sangat menyesal.” Ujarku sambal mencomot cakwe.
“ Sekarang gue tanya, dulu dulu pas dia mukulin elo, dia pernah minta maaf dan berjanji untuk gak melakukan lagi ga?.” tanya Angga. Aku berhenti mengunyah, berfikir sebentar dan mengangguk pelan. Angga membalikkan kedua telapak tangannya ke atas seolah menyuruhku untuk berfikir kembali.
“ Lo sebenernya udah berapa kali sih vi mengalami ini?.” tanya Teddy heran.
“sering.” Jawabku sambil lanjut mengunyah cakwe.
“ Lo kenapa bertahan?.” tanya Teddy dengan mulut menganga dan alis mengangkat.
“Yah… kan lo berdua tau, target gue menikah maksimal 25 tahun. Nah gue kan sekarang udah 24 tahun. Gue udah dua tahun pacaran sama Tio. Dia udah janji untuk melamar gue setelah gue mendapatkan gelar Master gue.” Jelasku. Teddy dan Angga hanya saling bertatapan.
“Tenang…. Kamu ulang tahun akhir tahun ini kan? Berarti kira kira 5 bulan lagi ya?.” Tiba tiba Mas Alim membuka suara. Aku terkejut mendapati Mas Alim menebak ulang tahunku.
“Loh kok tau mas?.” Tanyaku sambil mencurigai Teddy dan Angga. Teddy dan Angga hanya mengangkat bahu bersamaan.
“ Gue emang sengaja ngajak Mas Alim kesini dan dari tadi gak jelasin siapa Mas Alim”. Ujar Angga. “Mas Alim itu temen kost gue, dia sering punya firasat mendekati benar terhadap lawan bicaranya. Dari tadi Mas Alim memperhatikan lo, gue tau lo akan labil seperti ini. Gue penasaran apa yang membuat lo labil sehingga lo susah banget memutuskan Tio padahal lo sering disakiti.” Lanjut Angga. Aku tak peduli. “ Apa jangan jangan lo tu udah dipelet sama dia?.” Kata Angga lagi.
“Huss sembarangan hari gini nuduh orang main pelet.” Jawabku sewot.
“ Ya lalu apa dong?.” Tanya Angga lagi.
“Ya kan gue udah bilang, target gue menikah itu umur 25 tahun, berarti kan tinggal 6 bulan lagi.”  Jelasku.
“Emang keluarga Tio sudah ada yang datang?.” Tanya Teddy.
“Ya belum sih… katanya ntar kalo udah lulus, Kira kira 3 bulan lagi kan kita wisuda.” Kataku. “Eh tunggu deh, tadi Mas Alim bilang aku bakal ketemu jodohku pas ulang tahun ini?.” Aku menoleh pada Mas Alim. Mas Alim mengangguk. “Jodohku itu pacar aku yang sekarang bukan?.” Tanyaku antusias.
“Bukan.” jawab Mas Alim singkat.
“Ah ga mungkin…” Kataku.
“Kenapa ga mungkin?.” tanya Angga.
“ Tio pernah bilang, ga akan ada lagi yang mau sama aku.” Jawabku. Angga dan Teddy mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kenapa emangnya?.” Tanya mereka serentak.
“ Kata dia karena gue punya penyakit.”
“Emang lo sakit apa?.” Tanya Angga.
“Diabetes.”
“Udah periksa?.”
“Belum.”
“Ada riwayat keluarga?.”
“Ngga ada, orang tua gue ga ada yang diabetes.”
“Terus kok dia bisa vonis begitu?.”
“Karena dia sering liat gue minum teh botol.”
Angga dan Teddy bertatapan lagi, lalu bersamaan menghela nafas panjang dan kembali menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi. Mas Alim tertawa.
“Eh kalian kenapa sih? Aneh!.” Tanyaku sewot.
“Kamu tuh manis tapi polos dan gak pedean.” Ujar Mas Alim. “Mereka udah mikir yang nggak nggak waktu pacar kamu bilang gak akan adalagi yang mau sama kamu.” Mas Alim, Angga dan Teddy tertawa geli. Aku menepuk jidat.  
****
Malam ini malam minggu, Angga Teddy dan Mas Alim sudah pulang. Aku sendirian di kost terbaring di kasur sambil berusaha mengulang kembali pembicaraan tadi siang dan sesekali menolak telepon dari Tio. Kali ini aku harus benar benar bertanya pada diriku sendiri. Jika aku putus dari Tio maka aku tidak jadi menikah. Kalau aku tidak menikah nanti papa mama akan sedih karena aku anak perempuan terakhir yang belum menikah. Lalu para tetangga akan mulai berbisik bisik membicarakan kandasnya hubunganku walaupun sudah dua tahun pacaran dengan seorang laki laki yang sering diajak ke rumah bertemu mama dan papa. Lalu teman teman satu per satu akan menikah dan meninggalkanku melajang sendirian. Namun jika aku ingin semua itu tak terjadi maka aku harus menikah dan tidak bahagia. Tunggu….aku tidak bahagia? Aku tak percaya kali ini diriku berkata jujur.  Yup aku tidak bahagia jika menikah dengan Tio!! Jadi mengapa aku selama ini bertahan? Aku baru tersadar ternyata aku hanya ingin memuaskan semua orang dan aku terpengaruh ucapan Tio yang mengatakan bahwa tak akan ada pria lain yang mau meminangku. Kemudian aku teringat dengan ramalan Mas Alim bahwa aku akan bertemu dengan jodohku enam bulan lagi.

****
Enam bulan berlalu, kini aku telah berbahagia. Ternyata ramalan Mas Alim benar, aku bertemu jodohku seminggu sebelum ulang tahun dan dia melamarku sebulan kemudian. Sekarang aku sudah dua minggu menikah dan aku sudah memberanikan diri untuk menceritakan masa laluku kepada suami dan kedua orangtuaku. Reaksi suamiku adalah memelukku erat dan memastikan bahwa rumah tangga yang akan kami jalani tidak akan pernah ada kekerasan di dalamnya sedangkan reaksi kedua orangtuaku adalah kaget setengah mati karena tidak percaya dengan perlakuan Tio yang sehari hari terlihat manis dan sempurna itu ternyata menyakiti fisik dan bathin putri bungsunya. Meskipun begitu, yang paling penting adalah aku selamat dari menjalani bahtera rumah tangga dengan seorang pria tampan berhati serigala karena aku berani untuk mengatakan tidak pada kekerasan di dalam suatu hubungan.


Friday, June 22, 2018

BUNGA MEREKAH DI PAGI HARI by Andini NH





Pagi itu lapangan Garha Sabha Pramana dipenuhi mahasiswa/i Universitas Gadjah Mada berjubah hitam bertopi datar dan berselendang warna warni dominan kuning sesuai dengan fakultas masing-masing. Semua wajah tampak bahagia menyambut kelulusan mereka bagai bunga merekah di pagi hari dan siap untuk mengharumkan nama keluarga dan almamater. Begitu juga dengan Meiya, seorang gadis manis berparas campuran Sunda- Batak dengan tinggi badan 160cm dan berat 45kg berambut panjang hitam legam dan berkulit sawo matang  berasal dari Jakarta yang empat tahun lalu diterima di jurusan ilmu komunikasi Universitas Gadjah Mada dan pergi seorang diri ke kota pelajar tersebut dengan segudang cita cita dan harapan demi meraih impiannya menjadi seorang jurnalis. Kini, cita citanya tersebut seperti sudah tinggal selangkah lagi dalam genggamannya.
“Meiyaaaaa” teriakan itu sangat tidak asing di telinga Meiya, ia celingak celinguk mencari asal suara tersebut. Benar saja, dari kejauhan ia melihat Ratna sahabatnya berlari pelan-pelan mengenakan jubah hitam menerobos keramaian jubah jubah hitam lainnya dengan mengangkat sedikit kain kebayanya dan memegang topi datar yang hanya dijepit sedikit di sanggulnya.
“Ratnaaaa” Meiya melambaikan tangan dan menunjukkan posisi dirinya dan barisan yang sudah ia siapkan untuk Ratna.
Ratna adalah sahabat Meiya, ia adalah penduduk asli Jogja walaupun mukanya seperti keturunan Indo Arab dan berpostur lebih tinggi 10cm dari Meiya. Ratna jarang mengikuti kuliah karena ia mempunyai pekerjaan sampingan sebagai model. Meskipun begitu ia tak pernah melewati ujian sekalipun. Meiya banyak membantu Ratna dalam hal pelajaran karena Meiya terkenal rajin dan semangat menjalani kuliah. Ratna sering mengajak Meiya untuk menjalani kehidupan yang seimbang dengan mengajaknya bergaul dengan anak gaul Jogja dan mengenalkan dunia malam Jogja kepadanya. Mereka berdua menjalin persahabatan walaupun watak keduanya berbeda. Ratna cenderung lebih dewasa dan menerima dalam melihat persoalan hidup karena sejak kecil ia diasuh oleh ibunya seorang diri sehingga ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang bapak sedangkan Meiya merupakan gadis yang ambisius yang tidak ingin melihat dirinya begitu begitu saja, Meiya menginginkan sesuatu yang besar dalam hidupnya.
Ratna tiba di depan Meiya dengan terengah engah dan memegang bahu Meiya
“ Meiya, kita berhasil yeayy kita berhasil” Ujar Ratna
“Iya Rat hahhaha akhirnyaa kita bisa lulus tepat waktu ternyata kita bisa walaupun kita study hard and play harder hahhhaha” Balas Meiya
“Iya Mei, salah dong… play hard, study harder hahahhaha” jawab Ratna
“hahhaha iya bener Rat, semuanya akhirnya terbayar. Kita tinggal selangkah lagi menjemput impian kita” Meiya menjawab dengan berapi api.
kemudian Ratna membuka jubahnya untuk memamerkan kebaya yang ia kenakan.
“Tadaaa….. ini nih kebaya hasil design kamu, bagus juga ya ternyata. Kamu berbakat Mei, mungkin kamu salah masuk jurusan deh” Kata Ratna
“Halaah..design aku biasa aja ah Rat, tapi karena kamu yang pake jadinya bagus. dipake model gitu looh” Goda Meiya
“eehh tapi ini beneran, mamaku aja bilang bagus dan minta dibikinin juga tapi aku bilang  Meiya lagi sibuk urusan pindahan ke Jakarta hehehhe, kalau saja aku gak selalu mergokin gambar gambar kamu di kertas catetan mungkin aku gak minta digambarin baju kebaya sama kamu” Balas Ratna
“ heheheeh itu iseng-iseng doang, tapi sebenernya kalo ada waktu aku kepengen banget sih bisa bikin sendiri apa yang aku gambar” Jawab Meiya
            “anyway, Meiya, makasih banyak ya untuk persahabatan kita dan aku akan merindukan masa masa ini. Masa masa dimana kita yang awalnya hanya bibit bunga namun sekarang bunga itu sudah merekah dan mengharumkan”
 mereka pun berpelukan dan tak lama kemudian para mahasiswa dipersilakan memasuki gedung Grha Sabha Pramana untuk memulai prosesi wisuda.
Usai prosesi wisuda, semua peserta berhambur menemui keluarganya. Ada yang keluarganya tiba dari Banjarmasin, Papua, Padang, Medan dan lain lain. Mereka masing masing telah mempunyai acara sendiri sendiri . Ada yang sudah membooking studio foto untuk foto bersama keluarga mengenakan toga kemudian ada juga  yang sudah membooking restoran untuk merayakan hari kemenangannya. Hari itu adalah hari kebahagiaan dan kemenangan, jalanan di sekitar jalan Gejayan dan Jakal km 4,5 menjadi penuh dan ramai.
Setelah saling bersalaman dengan para orang tua sahabatnya, Meiya dan Ratna berpelukan lama.
“Mei, mungkin ini hari terakhir kita ketemu ya karena besok aku sudah harus ke Jakarta duluan untuk casting film “ Ujar Ratna
“ Yah..sayang kita gak bisa sama-sama ke Jakarta ya, aku harus menemani mama papa dulu di jogja dua hari ke depan dan pulang ke Jakarta bersama mereka” Jawab Meiya
“Iyah, makanya..keep in touch ya, nanti di Jakarta kita sempatin ketemuan yah.. kamu take care, sampai Jakarta harus segera melamar ke media-media sesuai dengan cita cita kamu. Oke?”
“Pasti dong Rat… aku sudah ga sabar untuk melebarkan sayap dan nongol di TV bacain berita  hahahha..see you soon yaaa”
Ratna dan Meiya akhirnya berpisah setelah empat tahun kedekatan mereka bersama sama menuntut ilmu demi menggapai cita-cita dan berpisah juga untuk meraih impian masing –masing

Monday, February 26, 2018

Cinta Mama dan Papa di Mata Dini



CINTA MAMA dan PAPA DI MATA DINI

Oleh : Andini NH

                Sore itu, mama dan papa sedang asyik bercengkrama di ruang keluarga. Mereka saling membicarakan aktivitas mereka seharian di kantor
“pa, bu Irma itu sepertinya merasa tersaingi oleh mama “ ujar mama
“kenapa dia ma?” tanya papa penuh perhatian.
“iya, dia itu gak suka kalau mama diangkat jadi kepala bagian” jawab mama
“loh kok gitu? Memangnya dia mau menjadi kepala bagian?” tanya papa
“iya sepertinya, dia kan sudah lama menjadi staf di situ. Mama ini orang baru tapi sudah langsung diangkat “ jelas mama
“oh..dikira gampang ya menjadi kepala” lanjut papa
“Itulah pa..fikirannya bu Irma memang selalu begitu “ tegas mama
Tak jauh dari mereka Dini yang msih berusia delapan tahun tanpa disadari sedang menyimak percakapan mereka sejak tadi
“ih…mama dan papa suka ngomongin orang ya..kata bu Asma kan gak boleh omongin orang” celetuk Dini dengan polos. Sontak mama dan papa tertawa
“loh..nggak dong Din…ini mama dan papa sedang bertukar fikiran”.  Jelas mama
Dini pun mengangguk angguk.
            Dini selalu melihat kedua orangtuanya harmonis dan penuh kasih sayang. Dalam benaknya tak ada pasangan sempurna seperti mama dan papa. Apalagi Dini selalu mendengar awal kisah perjumpaan mereka hingga akhirnya berkeluarga dan memiliki Dini dan Ade adik lelakinya. Bagi Dini, keluarga sempurna itu harus seperti keluarganya yaitu rukun, damai dan bahagia.
            Ketika Dini dan Ade kuliah di luar kota, iamendapat kabar bahwa papa dimutasi ke Berastagi Sumatera Utara untuk menjadi kepala kantor di sana. Alhasil, mama sendirian di Jakarta karena mamapun masih aktif bekerja. Suatu hari Dini mendapat telepon dari mama
“Din, mama ambil cuti seminggu” Kata mama
“Oh yaa assikkk mama mau ke Jogja ya temuin Dini?” tanya Dini girang
“Maaf Din, mama gak bisa jenguk kamu dulu, mama mau ke Brastagi temuin papa, mama kangeeen banget sama papamu. “ jawab mama
“ooh…..” ujar dini
“kamu baik-baik ya di Jogja” pesan mama
“baiklah ma…salam untuk papa” jawab Dini
Sejak papa di Brastagi, Dini tak lagi menjadi prioritas mama. Jatah telpon dan cuti mama dipakai untuk berhubungan dengan papa. Cinta mama kepada papa sungguh besar, sepertinya ia tak mampu hidup tanpa papa.
            Sudah seminggu mama di Brastagi, akhirnya mama kembali menelepon Dini.
“ Din, mama sebel sama papa” ujar mama
“loh kenapa ma? Minggu lalu bilang kangen banget” sindir Dini
“ iya.. kan mama itu kangen banget sama papa sampe dibela belain ambil cuti supaya bisa melepas kangen sama dia. Eh…disana mama malah dicuekin” jawab mama
“ Dicuekin? Dicuekin gimana? Kok papa begitu?” tanya Dini
“Gini lho Din, papa disana berangkat kantor pagi pagi, pulangnya baru sore. Mama tungguin papa bengong bengong di rumah. Pas papa pulang kan mama berharap papa perhatian sama mama. Eh… ini sih biasa aja tuh. Ih mama gak betah seharian di rumah gak ngapa-ngapain” jawab mama
Dini hanya menghela nafas. Dini tau, mama itu wanita karir. Pantaslah dia tidak bisa di rumah mengurusi hal hal rumah tangga. Mama dan papa itu terbiasa bertemu di sore hari selepas pulang kantor dan saling bercerita tentang aktivitas masing masing di hari itu. Kalau mama tidak bekerja ya dia tidak ada sesuatu yang bisa diceritakan pada papa.
            Akhirnya, ketika lebaran tiba kami semua dapat kembali berkumpul bersama di Jakarta. Tradisi ketika lebaran adalah keluarga duduk melingkar bersama kerabat lain yang datang berkunjung lalu masing masing anggota keluarga meminta maaf dimulai dari anggota keluarga termuda. Masing masing anggota mendapat giliran untuk berbicara sesuai urutan . Yang terakhir adalah yang tertua. Kini, tiba giliran mama berbicara
“ Anak-anakku, hari ini adalah hari teristimewa bagi mama karena kita dapat berkumpul bersama. Bagi mama, bersatu dengan kalianlagi dan papa adalah tak ternilai harganya” kemudian tangis mama pecah mengusik hati Dini dan Ade. “kalau mama boleh meminta kepada Allah swt, mama mohoon…agar kita semu dipersatukan kembali di rumah ini. Taka da yang lebih membahagiakan daripada hal tersebut” begitulah pidato lebaran mama.
            Ternyata, beberapa tahun kemudian akhirnya doa mama dikabulkan. Papa kembali bertugas di Jakarta. Dini lulus kuliah dan mendapat pekerjaan di Jakarta. Ade menyusul dua tahun berikutnya pulang ke Jakarta setelah menuntut ilmu empat tahun di Bandung. Papa mendapat promosi kenaikan jabatan. Kehidupan keluarga Dini mulai meningkat. Mama diberi supir dan mobil sendiri oleh papa. Rumah nyaman mereka direnovasi dan diperluas sesuai dengan keinginan mama.
            Namun, kebahagiaan tersebut tak berlangsung lama. Dini melihat ada kejanggalan dalam hubungan mama dan papa. Dini tak lagi mendapatkan pemandangan perbincangan kedua orangtuanya di sore hari. Papa semakin tenggelam dengan pekerjaannya, mama merasa sendirian dan mencari kesibukan dengan mengikuti beberapa majlis taklim. Suatu hari, ketika papa sedang sendirian menonton tv di ruang keluarga, mama sedang berada di dalam kamar. Tiba tiba telepon selular papa yang ketinggalan di kamar berbunyi.
“ Halo mas, kita jadi ketemu gak?” tanya seorang wanita dari nomor yang tidak ada namanya
Mama yang mengangkat telepon selular papa seketika dadanya bergemurh kencang seolah-olah dapat terdengan ke seluruh ruangan.
“ Halo? Mas..” ujar wanita itu lagi.
“ eh….ini siapa ya?” tanya mama dengan tangan dan kaki gemetaran.
Tut……tiba tiba suara telepon terputus, wanita nomor tak dikenal tersebut mematikan teleponnya. Mama masih berdiri kaku memegang telepon seluler milik papa. Kemudian ia lagsung keluar kamar menghampiri papa. Amarahnya tak dapat ditahan lagi .
“ Ini nomor siapa?!!” bentak mama kepada papa. Papa yang kelihatannya sedang asik selonjoran nonton televise padahal pandangannya kosong dan jiwa sedang tak berada di dalam rumah langsung kaget.
“Ada apa sih ma siang siang bgini teriak teriak!” jawab papa dengan nada yang tak kalah tinggi.
“Udah deh papa gak usah berkelit, ayo jawab aja papa siang ini mau kemana sama perempuan itu?!” teriak mama. Dini yang sedang tidur-tiduran di kamar kaget dengan suara keributan di ruang televise. Dini langsung tahu bahwa itu suara papa dan mama yang tak biasanya bernada tinggi semua. Dini buru buru keluar kamar begitu juga dengan Ade. Ade langsung berdiri di tengah mama dan papa.
“Kenapa ini ma…?kenapa pa?” tanya Ade.
“Tuh! Papa kamu tuh selingkuh!!” jawab mama sambil menangis. Dini terpaku, matanya berkaca-kaca setengah tak percaya. Papa selingkuh? Selama ini papa adalah potret suami sempurna di mata Dini.
“Bener pa?” tanya Ade kepada papa yang sedang duduk tertunduk dan menggaruk kepala
“Apa sih? Itu Cuma urusan kantor ! urusan kerjaan!”  jawab papa membela diri.
“Sudahlah ma… jangan curigaan… itu papa mengaku hanya urusan kantor saja” Ujar Ade menenangkan mama.
Mama berlari masuk ke kamar dan mengunci pintu. Mama tampak yakin akan pendiriannya bahwa papa selingkuh. Bagaimanapun juga mama pasti sudah mengenal sifat papa sehingga apa yang terjadi pada diri papa sudah diketahui mama walaupun papa tak berterus terang. Firasat seorang istri terhadap suami pastilah kuat karena mereka berdua tak pernah pisah ranjang apalagi pisah rumah selama puluhan tahun.
            Hubungan papa dan mama makin hari makin memburuk. Mama selalu menuduh papa selingkuh. Badan mama kian hari kian menyusut. Wajahnya tak lagi bersinar meskipun sudah ia tutupi dengan lipstick mahal. Senyum itu hilang membuat wajah mama bagaikan senja yang mendung. Papa selalu menyangkal selingkuh walaupun sudah sangat terlihat jelas kelakuannya yang berbeda. Pulang selalu larut malam, terima telepon sembunyi sembunyi dan sering keluar kota di akhir pecan dengan dalih kerjaan. Dini beberapa kali melihat mama menangis. Mama kesepian karena papa mulai tak memperhatikan dirinya dan tak ada lagi saling bertukar fikiran di sore hari selepas bekerja. Dini selalu berdoa agar mama dan papa tidak bercerai karena ia tak mau kelak dipandang sebelah mata oleh orang tua calon suaminya.
            Beberapa tahun kemudian tiba saatnya Dini menikah, papa dan mama tidak pernah bercerai. Malahan mereka lambat laun mulai terlihat akrab kembali. Tak lama setelah Dini menikah, papa pensiun. Sejak pensiun, sikap papa sudah berubah jauh lebih baik lagi terhadap mama. Kata mama, papa sekarang mulai mesra lagi dan tambah sayang terhadap mama. Mungkin setelah ia pensiun ia baru menyadari bahwa setelah ia tak punya jabatan lagi, ia masih memiliki keluarga yang utuh. Namun, tak semudah itu bagi papa untuk dapat merebut kembali hati mama. Fikiran mama masih selalu terseret akan masa lalu dimana papa begitu acuh padanya. Kalau papa mulai mengajak mama bermesraan, mama malah mendadak marah marah dan mengungkit masa lalu. Meskipun begitu, Dini tahu bahwa mama masih mencintai papa malahan sebenarnya cinta mama itu jauh lebih besar . Hanya saja, menyembuhkan luka hati itu tak semudah memberi obat luka pada tempat yang terluka dan menutupnya dengan perban. Butuh komitmen untuk berjanji bisa melupakan dan butuh kebesara hati untuk mau memaafkan. Lama kelamaan, berkat cinta mama jugalah akhirnya mama pelan pelan memaafkan papa dan mereka kembali terlihat mesra. Apalagi pada momen disaat Dini melahirkan anak pertamanya.
Mama keluar dari kamar operasi dengan lari lari tak sabar mencari papa di ruang tunggu
“Papa…papa….Dini sudah melahirkan!!” mama memeluk papa erat dan air matanya menetes.
“Alhamdulillah ma…perempuan atau laki-laki?” tanya papa dengan mata berkaca-kaca
“perempuan..pa…akhirnya kita punya cucu pa…” mama tak kuasa menahan kebahagiaan hingga ia mencium cium papa. Itulah titik balik kemesraan mama dan papa.
            Hampir sepuluh tahun sudah mama dan papa menjadi kaken dan nenek yang bahagia. Cucunya sudah bertambah menjadi hampir lima orang. Tiga dari Dini dan hampir dua dari Ade. Pada suatu Subuh mama seperti biasa hendak mandi sebelum menunaikan ibadah sholat Subuh namun tiba tiba mama berteriak memanggil papa
“ Pa…pa..” teriak mama dari dalam kamar mandi. Gubrak!! Terdengar suara orang jatuh dari dalam kamar mandi. Papa segera berlari masuk ke kamar mandi.
“ Mama!!” teriak papa seketika melihat mama sudah terjatuh di lantai. Papa menggendong mama keluar kamar dan menempatkan mama di kasur dengan hati hati.
“pa…mama pusing pa…telepon Ade pa….telepon Dini pa…cucu cucu…” suara mama semakin lama semakin tak terdengar dan mama mulai tak sadarkan diri. Papa panic sendirian dan lansung menelepon Dini, Ade dan dokter tetangga. Seketika mama langsung dibawa ke IGD dan langsung dipindahkan ke unit perawatan intensif. Dini dan Ade datang hampir bersamaan. Mereka berdua banjir air mata melihat mama dari balik kaca. Papa sedang berada disamping mama dan tak lama dipinta suster untuk segera keluar ruangan. Dini dapat dengan jelas melihat papa membisikkan ke mama “Selamat ulang tahun pernikahan ke 37 ma, papa sayang sama” lalu papa mengecup kening mama dan meninggalkannya”
Dini menangis sesenggukan sebab ia menjadi saksi kisah cinta mama dan papa. Dini memetik pelajaran bahwa cinta sepasang manusia itu akan mengalami pasang surut namun pada akhirnya kehidupan akan berjumpa dengan akhirnya maka hargailah cinta kita sebelum cinta tersebut hilang.